By. Ifah
“Heran, kenapa sih Aryo lebih milih ikut lomba PMR di SMU Merah putih dibanding nemenin gw ke ultah sepupu gw?” aku bersungut- sungt pagi ini. Entah udah berapa kali Miranda, teman satu bangkuku mencoba menenangkanku dengan menjawab singkat “Ya, soalnya Aryo’kan ketua PMR SMA kita”
Bosan sebenarnya mendengar alasan itu lagi yang keluar dari mulut Miranda, tapi kalau dipikir- pikIr ‘Hm..bener juga sih, tapi bodo amat. Mau dia ketua PMR, MPR, RMP, pokoknya aku kesel karena tanggal 10 November nanti Aryo gak janji bakal nemenin aku ke sweet seventeen-nya Uwi, sepupuku yang baru datang dari Australia.Huh!’.
“Ya..aku bakal usahain, tapi aku gak janji ya Mil” jawab Aryo waktu aku minta buat nemenin ke ultahnya Uwi kemarin.
“Kamu’kan tau sendiri, selesai lomba aku pasti gak bisa langsung pergi begitu aja. Ada laporan yang harus aku bikin. Beresin alat- alat, memastikan semuanya sesuai dengan prosedur sekolah” jelasnya lagi.
“Suruh aja wakil kamu. Itu’kan fungsinya wakil kalau ketuanya ada keperluan” sahutku gak mau kalah.
“Lagian..aku gak akan bisa jemput kamu cepet- cepet. Aku’kan gak punya kendaraan” pasrah Aryo mengutarakan alasan terakhirnya. Nyaris tak terdengar. Glek! Bukan maksudku buat menyudutkannya pada jawaban seperti itu,. Buru- buru aku merubah nada suaraku.
“Hm…yang pasti kamu bisa datang’kan? Cuma agak telat. Kalau begitu aku langsung tunggu di rumah Uwi aja, kamu gak usah jemput aku. Gimana?” tanyaku seraya memainkan ujung rambutku.
Kerut di dahi Aryo mulai berkurang, meskipun ragu, dianggukan juga kepalanya tanda setuju dengan kesepakatan yang kutawarkan. Fiuh…
* * * * *
“Kenapa juga lo baru sekarang sadar kalau lo sama Aryo tuh berbeda” Miranda membuka obrolan di kantin saat jam istirahat.
“Maksud lo?” tanyaku gak ngerti.
“Ya..lo’kan anak Cheers, identik dengan hal-hal simple, suka keramaian, sementara si Aryo, betah banget ngurusin PMR. Tali temali, perban sana perban sini, udah gitu dia ketua lagi. Bisa dibayangin’kan sibuknya kayak apa? Tapi kok lo bisa ya jadian sama dia?” urai Miranda panjang lebar.
‘What? Miranda ngomong apa sih? Tau apa dia tentang Aryo? Aryo itu beda. Dia berani denga segala apa yang dia punya. Kokoh sama pendapat-pendapatnya. Itu sebabnya dia emang pantas memegang jabatan Ketua PMR, belum lagi sikap rela berkorbannya yang gak pernah kenal waktu, kapanpun dan dimanapun. dia bakal bantu semampu yang dia bisa. Begitu juga sama aku. Dia berusaha keras buat mendapatkan aku. Malam- malam naik angkot Cuma buat jemput aku nonton. Hujan- hujan dia rela ke wartel Cuma untuk memastikan malam ini aku baik- baik aja. Menyisihkan uang sakunya untuk membelikan kado ulang tahunku. He is the best isn’t it?’ belaku mati- matian dalam hati.
“Masak dia lebih mentingin lomba PMR dibanding nganterin lo ke sweet seventeen-nya sepupu lo. Apalagi sepupu lo itu jauh- jauh dari Aussie Cuma pengen ngerayain 17 tahun-nya bareng sama keluarga besarnya d sini. Kalo gw jadi lo, huh gw bakal cari cara biar Aryo gak ikut lomba PMR deh.” Miranda masih asyik ngomentarin aku dan Aryo .
‘Tapi bener juga sih yang Miranda bilang, apa iya aku harus sejahat itu? Aryo gak pernah sedikitpun bikin salah selama ini. Seringnya justru aku yang buat salah. Tapi entah kenapa juga Aryo selalu bisa memaafkanku. Huh…Bingung…..’ hatiku menjerit.
* * * * *
“Besok aku berangkat jam 3 sore dari rumah, jadi kita ketemuan di depan gangnya Uwi jam 3.30-an ya. Oke?” pintaku begitu mendengar Aryo menelfon tanpa mengizinkan dia membuka obrolan.
“Mil..Insyaallah ya. Kamu tahu’kan lombanya aja jam 3 baru selesai.” Jawab Aryo tenang.
“Duh..emang lombanya apa aja sih lama banget? Kamu’kan jag masang tandu, masang perban, duh baru di PMR aja udah begini banget, apa lagi di MPR?” sungutku kemudian..
“Lho emang apa hubungannya PMR sama MPR? Jauh ‘Non” Aryo malah bercanda.
“Bodo. Pokoknya besok kamu harus datang. Klik. Tut..tut..” tanpa bnayak komentar kututup gagang telepon. Terbayang wajah Aryo yang sedang terheran heran sambil menekuri pesawat telepon di KBU wartel depan rumahnya. Aku menyesal melakukannya tadi, tapi bayangan kekecewaan esok kalau Aryo sampai gak datang ke pestanya Uwi jauh lebih mengkhawatirkanku apalagi kalau sampai Uwi nanyain “Mana Mil yang namanya Aryo?” Whoa…..
* * * * *
Jam di tanganku telah menunjukkan pukul 15.15. detik- detiknya selalu berubah dengan cepat seperti mengikuti degup jantungku yang juga berdenyut tak kalah cepatnya. Satu persatu saudaraku datang. Mengenakan gaun berwarna hijau, Uwi tampak ramah menyambut kerabatnya. Sesekali ia bercanda dengan para keponakan kecilnya. Aku masih terpaku di teras rumah Uwi. Langit tiba- tiba berubah mendung, awan hitam menggelayut dan siap melepas muatannya kapanpun dia suka. ‘Ya Tuhan jangan sekarang dong..Aku masih berdoa semoaga Aryo datang sebelum hujan’.
Terlambat, awan tahu hatiku sehitam mendung tapi dia gak mau akur buat menunda muntahan airnya.
Hujan turun dengan derasnya. Hancur sudah harapanku hari ini, gontai kumasuki ruangan, lilin- lilin menyala cantik menghiasi ruang tamu rumah Uwi. Senandung ulang tahun bergegas diikuti diiringi tawa renyah para bocah. Tapi tawa Aryo lebih kunantikan. Dari kejauhan kulihat sesosok remaja terengah engah berlari dalam balutan seragam PMR yang basah kuyup.
“Sorry Mil…belum jam setengah empat’kan? Heh..heh..” Terengah engah Aryo memasuki teras rumah Uwi.
Bajunya yang basah, slayernya yang menjuntai, topinya yang tak mampu menahan lebatnya hujan tak membuat wibawa Aryo berkurang di mataku. Aku menemukan alasan dari semua pertanyaan Miranda. Ini Aryo’ku!
“Mil ini tanggal 10 November, hari pahlawan. Hari dimana para pahlwan mempersembahkan semua jiwa dan raganya untuk ibu Pertiwi sebagai wujud cinta mereka. Mereka mengajarkan jangan Tanya apa yang telah Negara berikan untukmu namun Tanya apa yang telah engkau berikan untuk negaramu. Cinta itu indah, satu yang selalu diajarkan cinta. Jangan tanyakan apa yang sudah cinta berikan untukmu tapi tanya apa yang sudah kau berikan untuk sesorang yang kau cintai. Dan hari ini aku berikan cintaku ini untuk negaraku dengan menang juara I di lomba PMR dan aku juga gak mau ketinggalan mempersembahkan sesuatu untuk orangyang aku cintai. Hm..meski telat, aku tetap datang’kan? Tapi bajuku basah nih..” ujar Aryo tersenyum.Kupandangi muka basah Aryo, gurat nasionalis dan romantsi berpadu dengan sempurna.
(ifah/ PM)


